Gempa Bumi, Penyebab, dan Tindakan yang Dilakukan Jika Terjadi

Gempa Bumi, Penyebab, dan Tindakan yang Dilakukan Jika Terjadi

Pada dasarnya, gempa bumi ini merupakan sebuah getaran maupun pergerakan yang dapat terjadi secara tiba-tiba, atau dalam waktu yang tidak bisa kita prediksi.

Getaran atau pergerakan ini berasal dari adanya pelepasan energi secara riba-tiba pula yang mana terjadi pada permukaan bumi. Pelepasan energi yang terjadi secara tiba-tiba ini akan mengakibatkan gelombang seismik. Gelombang seismik ini memiliki sifat destruktif pada berbagai macam hal yang berdiri di atas permukaan bumi. Tak terkecuali dengan bangunan, pohon-pohon, maupun yang lainnya. Gempa bumi, memang sudah sangat familiar terdengar di telinga kita. Sebab, bencana alam yang satu ini sudah sering kali terjadi dalam kehidupan kita. Seperti yang kita ketahui, bahwa bumi kita ini selalu menunjukkan adanya perubahan hingga munculnya berbagai macam fenomena alam. Baik itu fenomena langit, darat, hingga perairan sekalipun.

Maka dari itulah, tidak mengherankan bila bencana alam seperti gempa ini sering terjadi. Seperti yang telah kita saksikan bersama, bahwa gempa ini terjadi sering kali memberikan dampak yang merugikan. Seperti halnya bangunan yang roboh, pohon tumbang, jalan retak, hingga tak jarang memakan korban jiwa. Oleh sebaba itulah seluruh masyarakat selalu diminta untuk waspada dan berhati-hati ketika terdapat peringatan gempa akan terjadi.

Penjelasan Lengkap Gempa Bumi

Umumnya gempa ini belum bisa kita prediksi oleh berbagai jenis teknologi yang telah ada pada masa kini. Akan tetapi, kekuatannya bisa kita ukur dengan mudah menggunakan Seismometer. Skala yang paling umum dan sering kita gunakan ketika melakukan pengukuran kekuatan gempa ini adalah skala Richter. Gempa yang memiliki skala Richter kurang dari tiga atau sekitar 3, terkadang tidak dapat kita rasakan.

Namun, yang harus menjadi perhatian kita, ketika besaran sudah mencapai 7 skala Richter sudah dapat kita pastikan jika gempa tersebut memiliki potensi menyebabkan kerusakan yang serius. Tingkat kerusakan yang timbul karena gempa ini tidak hanya bersumber pada kekuatannya saja. Akan tetapi juga dapat kita ukur dari seberapa luas daerah yang terjadi gempa. Bukan hanya itu saja, kedalaman dari gempa bumi juga terjadi pada suatu permukaan bumi.

Sehingga memberikan pengaruh terhadap potensi destruktifnya. Apabila semakin dekat dengan permukaan tanah, maka gempa tersebut akan semakin berpotensi memiliki sifat destruktif yang jauh lebih besar. Meskipun tidak terdapat batasan yang pasti berapa skala Richter maksimal gempa bisa saja terjadi, akan tetapi sejarah mencatat skala gempa terbesar yang pernah terjadi. Kisaran kekuatan gempa tersebut dapat mencapai 9 skala Richter. Akan tetapi, tidak lebih dari 10 skala Richter.

Penyebab Terjadinya Gempa Bumi

Sering kali gempa terjadi karena berasal dari pelepasan energi. Energi tersebut dihasilkan oleh tekanan yang bermula dari lempeng bumi yang bergerak ke satu arah maupun bisa juga lebih. Apabila tekanan tersebut seiring waktu semakin membesar, pada akhirnya akan mencapai keadaan yang mana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempeng.

Sehingga, pada saat itulah gempa akan terjadi. Pergeseran lempeng bumi yang terjadi, mampu menimbulkan gempa. Sebab, peristiwa tersebut disertai dengan pelepasan sejumlah energi dengan ukuran yang besar.

Gerak Lempeng Bumi yang Menjauh Satu dengan Lainnya

Bukan hanya karena pergeseran lempeng bumi saja. Gerak lempeng bumi yang saling menjauhi satu dengan lainnya pun juga bisa menimbulkan terjadinya gempa. Hal ini karena ketika dua lempeng bumi yang bergerak saling menjauh, maka akan terbentuk lempeng baru antara keduanya.

Lempeng yang baru saja terbentuk itu mempunyai berat jenis yang jauh lebih kecil bila kita bandingkan dengan berat jenis lempeng yang lama. Lempeng baru tersebut akan memperoleh tekanan berukuran besar dari kedua lempeng yang lama. Oleh karena itulah, akan bergerak ke bawah dan juga mengakibatkan pelepasan energi dalam jumlah yang sangat besar.

Gerak Lempeng Bumi yang Saling Mendekat

Kemudian, gerakan lempeng yang saling berdekatan juga bisa menimbulkan terjadinya gempa bumi. Selain itu, pergerakan dua lempeng yang saling berdekatan juga dapat mengakibatkan terbentuknya sebuah gunung.

Misalnya saja seperti terjadinya gunung Everest yang terus bertambah ketinggiannya. Karena gerak lempeng yang ada di bawahnya semakin mendekat dan juga saling bertumpuk.

Gempa ini, umumnya terjadi pada perbatasan lempeng-lempeng tersebut. Gempa yang terjadi paling parah biasanya berada di perbatasan lempeng kompresional maupun translasional.

Pada dasarnya, gempa fokus dalam berbagai kemungkinan besar yang akan terjadi karena materi lapisan litosfer yang terhimpit ke dalam. Kemudian mengalami transisi fase pada kedalaman lebih dari 600 km.

Pergerakan Magma

Beberapa gempa lain yang bisa saja terjadi juga karena adanya pergerakan magma dalam gunung berapi. Gempa semacam itu bisa menjadi gejala akan terjadinya letusan gunung berapi.

Meskipun jarang terjadi, ada beberapa gempa karena penumpukan massa air yang sangat besar dari balik dam. Gempa semacam ini pernah terjadi pada Dam Karibia di Zambia, Afrika.

Gempa yang juga jarang terjadi karena disebabkan oleh injeksi maupun atraksi cairan dari atau ke dalam bumi. Contoh dari gempa ini terjadi pada beberapa pembangkit listrik tenaga panas bumi dan juga di Rocky Mountain Arsenal.

Peledakan Bahan Peledak

Gempa juga bisa berasal dari peledakan bahan peledak. Hal tersebut bisa membuat para ilmuwan melakukan monitor tes rahasia senjata nuklir yang pemerintah lakukan. Gempa yang satu ini, memang cenderung disebabkan oleh ulah manusia. Sehingga gempa ini bisa kita sebut sebagai seismisitas terinduksi.

Pada umumnya, gempa sendiri terbagi berdasarkan beberapa macam. Macam-macam dari gempa tersebut dapat kita lihat berdasarkan kedalaman, penyebab, gelombang, hingga lokasi atau keberadaannya.

Gempa Bumi Berdasarkan Lokasi

Gempa yang kita kelompokkan berdasarkan lokasinya merupakan gempa yang terbagi menurut lokasi terjadinya. Berdasarkan lokasinya ini terbagi menjadi dua, yakni darat dan juga laut.

Gempa yang Terjadi di Darat

Gempa yang satu ini merupakan gempa yang terjadi pada bagian darat. Selain itu, gempa ini terjadi karena adanya patahan atau lipatan di darat. Pada dasarnya gempa ini tidak akan menimbulkan tsunami. Akan tetapi mampu menghancurkan gedung, hingga menyebabkan kebakaran pada kota.

Gempa yang Terjadi di Laut

Gempa bumi yang satu ini merupakan gempa yang terjadi karena adanya patahan maupun lipatan dalam dasar laut. Selain itu, gempa ini mempunyai potensi menimbulkan tsunami, karena adanya perbedaan tekanan sebelum maupun sesudah gempa terjadi. Sehingga akan menyebabkan air laut menjadi naik dan akhirnya menciptakan tsunami.

Gempa Bumi Berdasarkan Gelombang

Seperti yang kita ketahui, gelombang merupakan salah satu dari penyebab terjadinya gempa. Gelombang tersebut berasal dari pusat gempa yang kita sebut sebagai hiposentrum. Hiposentrum merupakan titik utama dari gempa yang tengah terjadi. Berdasarkan gelombang ini terbagi menjadi dua, yakni primer maupun sekunder.

Gempa Berdasarkan Gelombang Primer

Gempa yang berdasarkan gelombang primer ini merupakan gempa dengan sifat merambat. Gelombang tersebut berasal dari pusat gempa dengan memiliki kecepatan mencapai 14 km per detik. Gempa bumi tersebut merupakan gempa permulaan, sebelum gempa susulan terjadi.

Gempa Berdasarkan Gelombang Sekunder

Terjadi karena gelombang sekunder ini, hampir sama dengan gelombang primer. Hal yang membedakan antara keduanya ini adalah tingkat kecepatannya. Kemudian, gempa berdasarkan gelombang sekunder ini memiliki kecepatan yang lebih lambat. Kecepatan gelombang tersebut kurang lebih 7 km per detik. Gempa tersebut biasanya merupakan susulan dari gempa yang pertama kali terjadi.

Gempa Bumi Berdasarkan Penyebabnya

Berdasarkan penyebabnya, gempa ini berasal dari penyebab yang berbeda-beda. Salah satu penyebabnya yang paling sering terjadi adalah karena kejadian alam. Hingga ulah dari manusia itu sendiri. Berdasarkan penyebabnya, gempa terbagi menjadi lima jenis, berikut ini uraian selengkapnya.

Gempa Tektonik

Gempa tektonik merupakan gempa yang berasal dari pergeseran lempeng-lempeng tektonik. Lempeng tektonik merupakan lempeng yang ada pada dunia ini. Sebenarnya lempeng-lempeng tersebut membentuk benua-benua yang ada di dunia. Gerakan lempeng yang terjadi bisa saling berjauhan maupun berdekatan. Apabila lempeng-lempeng tersebut saling bersinggungan, maka akan mempunyai potensi untuk menciptakan gempa dengan kekuatan yang sangat besar.

Gempa Vulkanik

Gempa vulkanik merupakan gempa yang terjadi saat pra maupun pasca letusan gunung berapi. Letusan gunung api tersebut terjadi karena adanya tekanan panas pada dapur magma yang keluar. Kemudian mencari tempat dengan tekanan yang lebih rendah. Tekanan tersebut, dapat menggerakkan lapisan bumi dan juga menggetarkannya. Gunung api yang akan meletus, menimbulkan gempa kecil yang terjadi secara berulang kali. Ketika meletus, akan menghasilkan getaran dengan kekuatan yang kuat.

Gempa Akibat Runtuhan dan Benturan

Gempa bumi yang terjadi karena benturan maupun runtuhan ini merupakan gempa yang terjadi akibat longsor. Longsor tersebut karena adanya erosi atau gunung kapur yang runtuh. Batuan maupun tanah yang jatuh karena longsor, penyebabnya adalah getaran kecil pada kulit bumi. Sementara itu, benturan yang berasal dari meteor yang kemudian jatuh ke bumi, juga dapat menyebabkan terjadinya gempa.

Gempa Akibat Manusia

Pada kenyataannya, gempa tidak hanya terjadi karena faktor alam saja. Manusia juga mempunyai kemampuan untuk menciptakan gempa tersebut. Gempa yang terjadi akibat dari ulah manusia ini biasanya terjadi karena penggunaan bahan peledak dengan kekuatan besar. Umumnya bahan peledak tersebut, sering kita gunakan sebagai penghancur gedung-gedung yang memang sudah tidak terpakai lagi. Atau bisa juga untuk melubangi gunung yang kita gunakan sebagai kegiatan pertambangan. Pertambangan yang hancur, juga bisa menimbulkan gempa.

Gempa Bumi Berdasarkan Kedalamannya

Umumnya, gempa juga bisa kita bedakan berdasarkan kedalaman pusat gempa terhadap permukaan. Gempa yang berasal dari kedalaman kurang lebih 300 km dari permukaan ini, merupakan gempa yang dalam. Oleh karena itu, gempa tersebut tidak akan terasa oleh manusia, dan hanya terdeteksi dengan menggunakan seismograf. Sementara itu, gempa yang terjadi pada jarak 60 km dari atas permukaan, kita sebut sebagai gempa menengah. Gempa menengah ini tidak akan begitu terasa oleh manusia, selain itu hanya akan menghasilkan getaran yang ringan. Gempa yang terjadi pada kedalaman lebih dari 60 km di atas permukaan bumi, merupakan gempa yang dangkal. Karena dangkal inilah manusia bisa sangat merasakannya. Selain itu, sudah pasti menyebabkan terjadinya kerusakan pada permukaan bumi.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terjadi Gempa?

Ketika gempa terjadi, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan diri. Selain untuk berupaya agar tidak panik, kita bisa melakukan hal-hal tersebut.

Berlindung di Bawah Meja dan Usahakan Agar tetap Tenang

Hal pertama yang bisa kita lakukan ketika mengetahui dan merasakan gempa yakni dengan berlindung di bawah meja. Setelah itu lindungi kepala dengan menggunakan tas maupun tangan. Tujuan melakukan hal tersebut yaitu menghindari langit-langit rumah atau kantor yang mungkin saja runtuh ketika terjadi guncangan. Cobalah untuk tetap tenang dan tidak perlu mencoba berlari ke luar. Apalagi jika jarak kita berada jauh dari pintu karena sangat berbahaya. Kita tunggu sampai gempa mereda, kemudian evakuasi diri kita ke tempat yang terbuka.

Menggunakan Tangga Darurat untuk Evakuasi

Ketika kita berada pada dalam gedung yang tinggi ketika gempa, maka pilih tangga darurat untuk melakukan evakuasi diri. Evakuasi diri ini kita lakukan setelah guncangan gempa bumi berhenti. Demi kebaikan bersama, maka hindari penggunaan lift karena dikhawatirkan aliran listrik yang terputus. Sehingga kita dapat terjebak dalam lift. Gedung-gedung perkantoran modern maupun pusat perbelanjaan pasti mempunyai tanggal darurat yang menghubungkan setiap lantainya.

Ketika gempa sudah reda, maka turuni setiap anak tangga tersebut secara perlahan dan tidak perlu saling dorong maupun berdesak-desakan. Ketika sudah berhasil mengevakuasi diri, kita harus mencari tempat yang lapang dan tidak berdekatan dengan gedung-gedung tinggi. Sebab, ditakutkan gedung tersebut akan runtuh dan mengenai kita. Ketika terjadi gempa bumi, kita dapat menyelamatkan diri dengan melakukan hal-hal tersebut. Pastikan untuk tidak panik dan tetap tenang demi menjaga keselamatan bersama.

3 Gempa Terbesar yang Tercatat di Indonesia Sampai 2020

Jika kita berbicara soal gempa, maka Indonesia sendiri tidak lepas dari bencana yang satu ini. Dalam periode dua dekade ini, tercatat gempa terbesar yang pernah terjadi di Indonesia.

Gempa Padang (2009)

Padang menjadi saksi bisu terjadi gempa terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Gempa tersebut terjadi dengan kekuatan 7,6 SR, tepatnya pada 30 September 2009 di lepas pantai Sumatera. Kurang lebih berjarak sekitar 50 km barat laut dari kota Padang. Gempa tersebut memakan korban jiwa lebih dari 1.100 meninggal dunia. Saking besarnya gempa tersebut, mampu memporak-porandakan kota yang terkenal dengan jam gadangnya tersebut. Sedangkan untuk korban yang mengalami luka-luka kurang lebih mencapai 2.181 orang. Sementara itu sejumlah 2.650 bangunan mengalami kerusakan. Gempa ini pun juga menyebabkan tanah longsor hingga memutuskan listrik dan komunikasi.

Gempa Jawa Barat (2017)

Pada tanggal 15 Desember 2017 telah terjadi gempa yang dahsyat melanda wilayah Jawa Barat. Saat itu, kawasan yang paling parah akibat terjadinya gempa ini yaitu, Ciamis, Pangandaran, dan juga Tasikmalaya. Gempa tersebut terjadi dengan kekuatan 6,9 SR yang berpusat di Tasikmalaya. Terjadi pada pukul 23.47 WIB. Kemudian saat pagi hari terjadi gempa susulan dengan kekuatan 5,7 SR yang berpusat di 129 km dari daerah Garut. Bencana alam dahsyat ini terasa hingga wilayah Jakarta.

Gempa Palu Donggala (2018)

Gempa bumi yang hingga saat ini masih terngiang dalam pikiran kita adalah gempa Palu Donggala yang terjadi pada tahun 2018. Selain itu, gempa tersebut terjadi dengan kekuatan 7,4 SR yang melanda kawasan Sulawesi Tengah. Akibat gempa tersebut menewaskan lebih dari 2.000 orang dan kurang lebih sekitar 670 orang dinyatakan hilang. Gempa tersebut memporak-porandakan kota Palu dan Donggala. Karena gempa ini, muncullah gejala likuefaksi atau pencairan tanah. Yang mana juga menelan banyak korban jiwa maupun material.

10 Gempa Bumi yang terjadi di Indonesia dan Sekitarnya baru-baru ini

1. Gempa 4.2 SR, Pusat gempa berada di darat 39 km Barat Daya Parigi Moutong pada 29 November 2020 00:32:38 WIB.
2. Gempa 4.7 SR, Pusat gempa berada di darat 38 km Barat Daya Parigi Moutong pada 29 November 2020 00:26:11 WIB.
3. Gempa 4.3 SR, Pusat gempa berada di darat 41 km Barat Daya Parigi Moutong pada 29 November 2020 00:37:25 WIB.
4. Gempa 4.9 SR, Pusat gempa berada di Laut 78 km Barat Daya Tegalbelued pada 29 November 2020 04:07:50 WIB.
5. Gempa 4.5 SR, Pusat gempa berada di laut 66 km Selatan Pacitan pada 29 November 2020 10:34:14 WIB.
6. Gempa 3.3 SR, Pusat gempa berada di darat 28 km Tenggara Sumbawa Barat pada 29 November 2020 14:54:44 WIB.
7. Gempa 4.5 SR, Pusat gempa berada di darat 39 km barat laut Parigi Moutong pada 29 November 2020 19:14:15 WIB.
8. Gempa 5.1 SR, 50 km BaratDaya KAUR-BENGKULU dan tidak berpotensi tsunami pada 29 November 2020 21:48:28 WIB.
9. Gempa 4.4 SR, Pusat gempa berada di darat 49 km Barat Laut Parigi Moutong pada 28 November 2020 21:14:21 WIB.
10. Gempa 4.2 SR, Pusat gempa berada di darat 14 km Barat Daya Tambolaka pada 28 November 2020 21:57:38 WIB.

*Photo from Pexels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *