Prakiraan Cuaca di Indonesia Menurut BMKG dan Faktor Perubahannya

Prakiraan Cuaca di Indonesia Menurut BMKG dan Faktor Perubahannya

Prakiraan cuaca atau perkiraan cuaca dalam bahasa sehari-hari kita sering kali disebut sebagai ramalan cuaca. Ini merupakan penggunaan ilmu maupun teknologi guna memperkirakan keadaan atmosfer Bumi. Terutama keadaan pada waktu yang akan datang terhadap suatu tempat maupun wilayah tertentu. Seperti yang kita ketahui, cuaca adalah suatu keadaan atau kondisi atmosfer pada wilayah tertentu. 

Selain itu, juga terjadi dalam waktu tertentu pula. Hal tersebut berkaitan dengan berbagai unsur penting. Seperti halnya, kondisi udara, hujan, angin, sinar matahari, suhu udara dan unsur lainnya. Bukan hanya itu saja, cuaca ini juga menandakan suatu keadaan udara yang dapat terjadi pada suatu wilayah dengan cakupan sempit dalam jangka waktu yang pendek.

Pada dasarnya, cuaca ini juga menjadi suatu aktivitas fenomena alam yang terjadi dalam waktu yang relatif pendek dan singkat. Misalnya saja hanya berselang dalam beberapa hari saja.

Tak dapat kita pungkiri, Indonesia sendiri memiliki perubahan cuaca yang cukup ekstrim. Sehingga, tidaklah heran bila perubahan cuaca tersebut terkadang memberikan dampak yang kurang baik bagi kehidupan masyarakat, seperti halnya banjir hingga wabah penyakit. Cuaca yang terjadi pada Indonesia disebabkan karena adanya perbedaan suhu maupun kelembapan. Terutama antara satu wilayah dengan wilayah yang lainnya.Selain itu, cuaca ini juga dapat dipengaruhi oleh adanya berbagai hal yang terjadi di angkasa. Misalnya saja adanya angin matahari.

Prakiraan Cuaca dan Jenis Cuaca di Indonesia

Indonesia sendiri, memiliki berbagai macam cuaca. Tentu saja memiliki perbedaan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Berikut inilah jenis cuaca yang ada di Indonesia untuk kita pahami bersama.

Cuaca Cerah

Kondisi cuaca yang satu ini adalah sebuah keadaan yang mana Matahari bersinar dengan jernih. Udara yang kita rasakan tidak begitu panas. Selain itu, ketika cuaca cerah, umumnya hujan tidak akan turun. Sehingga dapat kita katakan bahwa cuaca yang satu ini sangatlah mendukung setiap aktivitas harian kita. Tak jarang juga beberapa wilayah yang ada di Indonesia memiliki cuaca cerah berawan.

Cuaca Panas

Indonesia juga memiliki cuaca yang panas. Cuaca panas ini adalah suatu keadaan yang mana udara terasa kering karena panas sinar matahari. Keadaan tersebut terjadi ketika cahaya matahari tegak lurus ke bumi. Sehingga salah satu dampak yang terjadi adalah mengakibatkan Indonesia memiliki cuaca yang panas.

Cuaca Berawan

Perkiraan cuaca yang sering diramalkan di sejumlah wilayah Indonesia yakni berawan. Cuaca berawan ini adalah suatu keadaan yang mana terdapat beberapa awan yang bergerombol di langit. Dengan demikian, sinar matahari tidak akan terasa panas. Sebab, terhalang oleh awan-awan tersebut.

Cuaca Sejuk

Jenis cuaca lainnya yakni cuaca sejuk. Kondisi cuaca yang satu ini adalah sebuah keadaan yang mana humiditas udara yang terjadi cukup tinggi. Selain itu angin akan bertiup dengan cepat. Suhu udara yang kita rasakan juga terbilang rendah.

Cuaca Berangin

Cuaca berangin adalah suatu keadaan yang mana angin bergerak dengan kondisi yang cukup kuat. Sehingga dapat menggerakkan benda-benda ringan yang angin tersebut lalui. Ketika cuaca berangin, umumnya langit menjadi sedikit berawan dan suhu udara cenderung lebih rendah.

Cuaca Hujan

Saat ini Indonesia tengah memasuki cuaca penghujan. Cuaca hujan ini adalah sebuah kondisi yang mana titik-titik air yang berada di atas langit tersebut berubah menjadi tetesan air. Titik-titik air ini berasal dari adanya penguapan air pada permukaan bumi. Seperti halnya sungai, danau, laut dan lain sebagainya. Yang mana ini terjadi karena sinar matahari. Cuaca hujan yang terjadi di Indonesia ini terbagi dalam beberapa macam, seperti hujan ringan, hujan petir, dan hujan sedang.

Prakiraan Cuaca di Indonesia oleh BMKG

Seperti yang kita bahas sebelumnya, bahwa saat ini Indonesia tengah memasuki cuaca hujan. Cuaca hujan atau musim hujan yang terjadi di Indonesia akan mulai secara bertahap. Awalnya pada akhir bulan Oktober 2020, yang mana dari wilayah Indonesia bagian barat. Setelah itu, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami puncak musim penghujan ini pada bulan Januari hingga Februari 2021.

Menurut BMKG atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika prakiraan cuaca pada tahun 2020/2021 secara umum dapat kita simpulkan sebagai berikut.

Awal musim hujan tahun 2020/2021 pada 342 Zona Musim (ZOM) telah mendapatkan perkiraan secara umum mulai bulan Oktober 2020. Yang mana akan terjadi pada sebanyak 119 Zona Musim (ZOM) sebesar 34,8 %. Sedangkan untuk bulan November 2020, kurang lebih sebanyak 131 Zona Musim (ZOM) sebesar 38,3%. Sementara untuk bulan Desember 2020 sebanyak 56 Zona Musim (ZOM) sebesar 16,4%.

Prakiraan cuaca lainnya, terdapat beberapa daerah atau wilayah lainnya awal musim penghujan sudah terjadi pada April 2020 sebanyak 4 Zona Musim (ZOM) sebesar 1.2%. Pada bulan Mei 2020 sebanyak 1 Zona Musim (ZOM) sebesar 0,3%.

Pada bulan Juli 2020 sebanyak 10 Zona Musim (ZOM) sebesar 2,9 %. Bulan Agustus kurang lebih sebanyak 4 Zona Musim (ZOM) sebesar 1,2%. Bulan September 2020 sebanyak 6 Zona Musim sebesar 1,8%. Sementara untuk bulan Maret 2021 sebanyak 8 Zona Musim (ZOM) sebesar 2,3%. Bulan April 2021 sebanyak 2 Zona Musim (ZOM) sebesar 0,6% sedangkan untuk Mei 2021 sebanyak 1 Zona Musim (ZOm) sebesar 0,3%.

Perbandingan dan Sifat Cuaca

Pihak BMKG telah memberikan hasil perbandingan terhadap rata-rata selama 30 tahun, yakni mulai dari tahun 1981 hingga 2010 dalam 342 Zona Musim. Maka dari itulah, dapat kita tarik sebuah garis besar bahwa awal musim hujan 2020/2021, sebagian besar daerah yakni 154 Zona Musim (ZOM) sebesar 45,0% mendapatkan perkiraan akan mundur.

Hal tersebut karena adanya perbandingan dengan rata-ratanya. Sedangkan 120 Zona Musim (ZOM) sebesar 35,1% telah mendapatkan perkiraan yang sama terhadap hasil rata-ratanya.

Sementara itu prakiraan cuaca yang akan maju terhadap rata-rata sebanyak 68 Zona Musim (ZOM) sebesar 19,9%. Sifat hujan tersebut selama musim penghujan 2020/2021 berlangsung, sebagian besar daerah yakni 243 Zona Musim (ZOM) sebesar 71,0% mendapatkan prakiraan normal. Prakiraan atas normal terjadi pada 94 Zona Musim (ZOM) sebesar 27,5% dan sebanyak 5 Zona Musim (ZOM) sebesar 1,5% prakiraan bawah normal.

Puncak Cuaca

Puncak dari musim hujan 2020/2021 ini pada 342 Zona Musim (ZOM) mendapatkan prakiraan secara umum akan terjadi pada bulan Januari 2021 sebanyak 168 Zona Musim (ZOM) sebesar 49,1%. Musim penghujan ini juga terjadi pada bulan Februari 2021 sebanyak 80 Zona Musim (ZOM) sebesar 23,4%. Sedangkan beberapa wilayah yang lainnya, puncak musim penghujan ini terjadi pada bulan Mei 2020 sebanyak Zona Musim (ZOM) sebesar 0,3%.

Pada bulan Oktober 2020 sebanyak 7 Zona Musim (ZOM) sebesar 2,0%. Sebanyak 27 Zona Musim (ZOM) sebesar 7,9% terjadi pada bulan November 2020. Puncak musim penghujan yang terjadi pada bulan Desember 2020 sebanyak 24 Zona Musim (ZOM) sebesar 7,0%.

Pada bulan Maret 2021 sebanyak 9 Zona Musim (ZOM) sebesar 2,6%. Sedangkan untuk bulan April 2021 sebanyak 5 Zona Musim (ZOM) sebesar 1,5%. Bulan Mei 2021 sebanyak 13 Zona Musim (ZOM) sebesar 3,8% dan bulan Juni 2021 sebanyak 5 Zona Musim (ZOM) sebesar 1,5%. Sementara itu untuk bulan Juli sebanyak 3 Zona Musim (ZOM) sebesar 0,9%.

Faktor yang Menyebabkan Perubahan Cuaca di Indonesia

Permasalahan soal cuaca pada akhir-akhir ini memang sudah bukan lagi masalah yang dapat dipandang enteng oleh dunia. Pasalnya, dampak yang dihasilkan dari masalah ini sebenarnya sangatlah membahayakan bagi kehidupan manusia dan alam di sekitarnya. Kerap muncul dalam berita prakiraan cuaca, para ilmuwan dan juga pemerhati mulai gencar memantik topik ini dikalangan masyarakat. Setidaknya mereka biasanya akan membawa tiga buah pokok masalah yang menyebabkan perubahan cuaca di dunia termasuk juga Indonesia. Dan ketiga masalah tersebut antara lain adalah Efek Rumah Kaca, terkikisnya lapisan ozon, dan pemanasan global. Lalu sebenarnya apakah yang dimaksud ketiga faktor tersebut?

Efek Rumah Kaca

Mungkin beberapa orang mulai mengenal istilah ini justru berkat dari band indie yang muncul pada periode tahun 2000-an. Yang jelas, penjelasan dari istilah efek rumah kaca tentu tidak akan ada sangkut-pautnya dengan blantika permusikan melainkan merupakan istilah yang kerap muncul dalam prakiraan cuaca.

Efek rumah kaca atau yang dalam bahasa Inggris disebut Greenhouse Efect ini merupakan sebuah kondisi di mana panas yang berasal dari radiasi matahari terperangkap di lapisan atmosfer. Kondisi tersebut kemudian membuat terjadinya perubahan suhu di permukaan bumi menjadi lebih hangat. Terperangkapnya radiasi panas matahari ini pada dasarnya memang sebuah kondisi yang cukup alami terjadi. Namun, kegiatan manusia yang tidak ramah akan lingkungan menurut banyak sekali penelitian juga memperparah keadaan tersebut.

Kegiatan-kegiatan manusia yang dapat memperparah efek rumah kaca antara lain yakni, pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, pertanian dan peternakan, penggunaan CFC pada lemari es dan aerosol, limbah gas industri dan masih banyak penyebab lainnya.

Perilaku tersebut yang kemudian membuat kondisi peningkatan suhu di bumi, yang akhirnya mempengaruhi cuaca di bumi dab juga menyebabkan munculnya masalah baru yakni pemanasan global.

Pemanasan Global

Sama halnya efek rumah kaca, istilah tentang pemanasan global juga kerap disinggung dalam sebuah berita prakiraan cuaca. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pemanasan global memang salah satunya juga disebabkan oleh efek rumah kaca.

Baik pemanasan global serta efek rumah kaca, keduanya akan bekerja saling terkait dalam terjadinya perubahan cuaca di bumi termasuk Indonesia. Secara umumnya, pemanasan global sendiri adalah kondisi di mana suhu di permukaan bumi terus mengalami peningkatan.

Tentu saja peningkatan yang terjadi dapat disebabkan oleh bermacam hal yang salah satunya adalah efek rumah kaca. Lalu bagaimana suhu di permukaan bumi dapat mengubah keseluruhan cuaca di atmosfer?

Pada dasarnya, bumi akan bekerja menuruti siklus yang mana memang sudah ditetapkan oleh sang pencipta. Kondisi ini yang kemudian membuat bumi dapat berjalan sesuai dengan aturannya misalnya saja soal kapan musim hujan tiba atau kapan kemarau tiba.

Namun, ketetapan tersebut berubah ketika ada suatu anomali yang terjadi pada bumi. Lantas dalam kaitannya kali ini adalah pemanasan global.

Suhu permukaan bumi yang terus memanas lama kelamaan membuat ketetapan cuaca di atmosfer menjadi ikut bergeser. Hal tersebut yang kemudian membuat perbedaan cuaca terjadi.

Kerusakan Lapisan Ozon

Masalah penyebab perubahan cuaca yang juga kerap disebut dalam prakiraan cuaca adalah tentang menipisnya lapisan ozon. Lalu sebenarnya apa lapisan ozon itu?

Lapisan ozon atau yang dalam pelafalan kimianya di tuliskan dengan huruf O3 merupakan salah satu lapisan yang menyelimuti bumi. Pada dasarnya setiap lapisan tersebut berfungsi Salma melindungi bumi dari anomali-anomali yang berada di antariksa.

Lapisan ozon sendiri punya fungsi untuk menghalau radiasi sinar ultraviolet B dari bumi. Pertanyaan yang pasti kemudian muncul adalah, mengapa bumi perlu menghalangi sinar ultraviolet B?

Sinar ultraviolet B merupakan salah satu sinar yang muncul dari matahari yang sangat berbahaya bagi kehidupan di bumi. Pada manusia, efek sinar ultraviolet B ini dapat menyebabkan kanker kulit dan juga katarak.

Dari segi biologi, hak tersebut dapat terjadi karena sinar ini mampu merusak susunan DNA pada manusia. Tidak hanya manusia saja, ultraviolet B juga dapat merusak susunan DNA pada makhluk hidup lain.

Hal tersebut yang membuat sinar ini sangat berbahaya bagi ekosistem di bumi.

Untuk itu, tentu perlu ada perlindungan yang hanya bisa dilakukan oleh ozon. Sayangnya, lapisan ozon di bumi juga dapat rusak yang penyebabnya cukup bermacam-macam.

Namun yang paling parah sudah pasti akibat, kegiatan manusia yang merusak lingkungan. Mengikisnya lapisan ozon ini juga pada akhirnya membawa perubahan pola cuaca di bumi dan akhirnya membuat kegiatan prakiraan cuaca menjadi semakin sulit dilakukan.

Dampak Perubahan Cuaca di Indonesia

Dalam kehidupan cuaca merupakan salah satu faktor penting yang kental pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Bukan hanya masalah panas dingin bumi dan pengaruhnya pada tubuh, efek dari perubahan cuaca ini bahkan bakal mempunyai dampak yang masif kepada pembangunan nasional suatu negara.

Misalnya saja, bila Indonesia terus terganggu pembangunannya dari segi masalah cuaca, mau dari terjadi bencana hingga lain sebagainya, tentu hal tersebut akan memperlambat pergerakan Indonesia kedepannya.

Bencana Alam

Banyak sekali masalah bencana alam yang dapat terjadi karena perubahan cuaca. Ambil contoh saja banyak berita prakiraan cuaca yang memprediksi musim hujan akan terjadi lebih lama dari biasanya.

Seperti yang diketahui banyak orang, hujan yang terjadi secara terus menerus bakal menyebabkan masalah seperti banjir dan atau tanah longsor. Yang lebih menyedihkan, masalah tersebut diperparah dengan kondisi kebiasaan masyarakat Indonesia yang masih kurang tertib dalam menanggulanginya.

Masalah tidak serta merta hanya hadir saat musim hujan berkepanjangan saja. Pernikahan cuaca yang menyebabkan musim kemarau berkepanjangan juga dapat menyebabkan bencana lain seperti kebakaran hutan, penurunan ketersediaan air hingga kekeringan.

Masalah kesehatan

Selain dampak bencana alam, perubahan cuaca juga dapat membawa masalah kesehatan yang tentunya tidak bisa dipandang remeh. Polemik-polemik kesehatan yang biasanya muncul pada musim-musim tertentu akan menjadi semakin rentan terjadi jika musim tersebut berlangsung lebih panjang lagi.

Misalnya saja, pada musim penghujan wabah penyakit DBD dan malaria tentu akan semakin membahayakan jika musim tersebut berlangsung dalam waktu yang lama.

Masalah Pangan

Prakiraan cuaca yang sulit akibat perubahan cuaca lebih jauh lagi juga mempunyai dampak dalam penghasilan pangan di suatu negara. Seperti yang diketahui, pangan merupakan salah satu kebutuhan yang tentu tidak bisa ditinggalkan oleh setiap manusia.

Namun ada salah satu faktor yang punya pengaruh sangat besar dalam penghasilan pangan. Dan sayangnya faktor tersebut adalah cuaca, yang tentu tidak akan mudah untuk disiasati oleh pemikiran manusia.

Tentu dalam pengadilan padi sudah pasti membutuhkan cukup air bukan? Namun juga dengan catatan jumlah airnya juga tidak boleh terlalu banyak, oleh karena itu penghasilan pangan akan berkolerasi dengan cuaca yang ada.

Itulah tadi, prakiraan cuaca berdasarkan data dari BMKG. Dengan informasi ini kita dapat mengetahui ramalan cuaca yang akan terjadi.

Prakiraan Cuaca beberapa kota di Indonesia hari ini, Minggu, 29 November 2020

1. Kecamatan Bandara Ngurah Rai, Kab. Badung: pagi cerah berawan.
2. Kecamatan Pamenang Barat, Kab. Merangin: pagi berawan.
3. Kecamatan Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya: pagi berawan.
4. Kecamatan Selorejo, Kab. Blitar: pagi hujan ringan.
5. Kecamatan Sambikerep, Kota Surabaya: pagi cerah berawan.
6. Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak: pagi hujan ringan.
7. Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak: pagi hujan ringan.
8. Kecamatan Aertembaga, Kota Bitung: pagi cerah berawan.
9. Kecamatan Air Salek, Kab. Banyuasin: pagi cerah berawan.
10. Kecamatan Binjai Barat, Kota Binjai: pagi hujan ringan.

*Photo from Pexels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *