Kerajaan Aceh: Peninggalan, Puncak Kejayaan hingga Keruntuhan

Tahukah Anda bahwa Aceh sebelum menjadi salah satu provinsi di Indonesia, dahulunya pernah berdiri sebuah kerajaan di sana? Ya, jawabannya adalah Kerajaan Aceh.

Telah ditemukannya berbagai peninggalan sejarah dari kerajaan Aceh menjadi bukti konkret pernah berdirinya kerajaan Islam di Indonesia.

Lantas, seperti apa sejarah mencatat tentang Kerajaan Aceh? Siapa saja raja yang pernah memimpin kerajaan ini? Dan, apa saja peninggalan sejarah dari kerajaan ini?

Jawabannya, mari kita simak pada ulasan di bawah ini.

A. Sejarah Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh terletak di wilayah Kutaraja atau yang lebih dikenal dengan nama Banda Aceh pada saat ini.

Kerajaan Aceh merupakan salah satu kerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah, yang sekaligus menjadi raja pertamanya pada 1496 M.

Berdirinya Kerajaan Aceh berkenaan dengan telah hadirnya kekuataan Barat di Malaka. Untuk mencegah invasi yang mungkin dilakukan oleh pihak Barat, Sultan Ali Mughayat Syah merangkul semua kerajaan kecil yang ada di sana untuk bisa berdiri bersama dalam naungan Kerajaan Aceh.

Langkah berikutnya yang diambil oleh Sultan Ali Mughayat Syah dalam mencegah invasi Barat yang mungkin terjadi adalah dengan mendirikan kekuatan pertahanan untuk Kerajaan Aceh di wilayah laut dan daratnya. Hal itu dilakukannya dengan membangun kekuatan angkatan laut dan angkatan darat.

Selain dari itu, Sultan Ali Mughayat Syah pun membuat dasar-dasar politik luar negeri Kerajaan Aceh. Berikut adalah penjelasan dasar-dasar politik yang dibuatnya:

  1. Membuat ikatan persahabatan yang lebih erat dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.
  2. Memunculkan sikap kemandirian sehingga kebutuhan sendiri bisa terpenuhi dan tidak tergantung dengan pihak luar.
  3. Menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru nusantara.
  4. Menerima bantuan dari pihak luar, yaitu tenaga ahli.
  5. Selalu bersikap waspada terhadap pergerakan apapun yang dilakukan barat.

Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Masa kegemilangan Kerajaan Aceh hadir, setelah berhasil mengambil alih wilayah Samudera Pasai. Pengambilan alih wilayah tersebut terjadi pada 1524 M.

B. Puncak Kejayaan Kerajaan Aceh

Puncak kejayaan Kerajaan Aceh terjadi di masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, setelah menggantikan Sultan Ali Riayat Syah selaku sultan sebelumnya.

Kerajaan Aceh mengalami perkembangan dan kemajuan yang luar biasa di masa kepemimpinan Sultan Iskandar muda, hingga pada akhirnya tercatat dalam sejarah hari ini dinyatakan sebagai puncak kejayaan Kerajaan Aceh.

Di masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh menjadi tempat dari pusat perdagangan dan penguasa jalur perdagangan lintas laut. Kerajaan ini bahkan menjadi rute transit untuk pedagang-pedagang Islam yang ada di Barat.

Di masanya, Sultan Iskandar Muda pun tetap meneruskan perjuangan pendahulunya untuk menyerang Portugis dan Kerajaan Johod di Semenanjung Malaya. Itu dilakukannya sebagai bentuk mempertahankan keberlangsungan hidup rakyat yang dipimpinnya karena mulai tumbuhnya kekuatan Barat di sekitar Kerajaan Aceh.

Pada saat itu, Portugal dan Kerajaan Johod di Semenanjung Malaya merupakan penguasa jalur perdagangan yang ada di Selat Malaka dan daerah-daerah penghasil lada.

Setelah berhasil mengambil alih jalur pusat perdagangan di Selat Malaka dan daerah Samudera Pasai, di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda Kerajaan Aceh tumbuh semakin pesat hingga mencapai puncak kejayaannya.

Kerajaan Aceh pada saat itu memiliki wilayah kekuasaan yang luas. Wilayah itu terbentang mulai dari daerah Indragiri, Aru, Pahang, Kedah, dan Perlak.

C. Keruntuhan Kerajaan Aceh

Setelah naik tahtanya Sultan Iskandar Thani, menggantikan sultan sebelumnya yaitu Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mulai mengalami kemerosotan. Kemerosotan itu berlangsung hingga masa pemerintahan sultan-sultan selanjutnya.

Baca Juga:  Sejarah ASEAN dan Latar Belakangnya

Di antara faktor utama yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Aceh adalah terjadinya persaingan internal di antara pewaris tahta. Hal itu menyebabkan ketidakstabilan pemerintahan yang berkuasa.

Faktor utama lainnya yang turut menjadi sebab runtuhnya Kerajaan Aceh adalah menguatnya pengaruh Belanda di Selat Malaka dan Sumatera. Hal ini turut memperburuk pondasi dan solidaritas Kerajaan Aceh pada saat itu.

Belanda sangat baik mengambil momentumnya saat itu. Ia akhirnya melancarkan perang ke wilayah Kerajaan Aceh.

Setelah bertahan selama 40 tahun dalam kondisi perang, Kerajaan Aceh akhirnya jatuh kekuasannya di genggaman kolonial Belanda.

D. Kehidupan Politik Kerajaan Aceh

Kehidupan politik Kerajaan Aceh mulai tumbuh dan berkembang pesat sejak pendiriannya, ketika memasuki pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Pada kondisi sebelumnya, politik Kerajaan Aceh hanya berfokus di kekuatan militer. Hal itu dilakukan oleh para sultan sebelumnya sebagai bentuk upaya mempertahankan kedaulatan Kerajaan Aceh dari hadirnya ancaman pihak luar yang bisa datang kapan saja.

Setelah Sultan Iskandar Muda menduduki tahta, ia kemudian lebih berfokus untuk menata ulang sistem politik kerajaan yang ada sesuai dengan kondisi dan kebutuhan saat itu.

Hal utama yang diperhatikan oleh Sultan Iskandar Muda pada saat itu adalah konsolidasi dan sistem pengawasan untuk setiap wilayah yang dikuasainya.

E. Daftar Raja-Raja Kerajaan Aceh

Di bawah ini adalah daftar nama raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Aceh:

  1. Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M)
  2. Sultan Salahudin (1528-1537 M)
  3. Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar (1537-1568 M)
  4. Sultan Husein Ali Riayat Syah (1568-1575 M)
  5. Sultan Muda (1575 M)
  6. Sultan Sri Alam (1575 – 1576 M)
  7. Sultan Zain al-Abidin (1576-1577 M)
  8. Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589 M)
  9. Sultan Buyong (1589-1596 M)
  10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604 M)
  11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607 M)
  12. Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M)
  13. Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M)
  14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675 M)
  15. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678 M)
  16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688 M)
  17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699 M)
  18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702 M)
  19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703 M)
  20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726 M)
  21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726 M)
  22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727 M)
  23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735 M)
  24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760 M)
  25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781 M)
  26. Sultan Badr al-Din (1781-1785 M)
  27. Sultan Sulaiman Syah (1785-1795 M)
  28. Alauddin Muhammad Daud Syah Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815 M)
  29. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818 M)
  30. Sultan Muhammad Syah (1824-1838 M)
  31. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857 M)
  32. Sultan Mansur Syah (1857-1870 M)
  33. Sultan Mahmud Syah (1870-1874 M)
  34. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903 M)

F. Peninggalan Kerajaan Aceh

Di bawah ini adalah peninggalan Kerajaan Aceh sebagai berikut:

  1. Makam Sultan Iskandar Muda
  2. Masjid Raya Baiturrahman
  3. Taman Sari Gunongan
  4. Benteng Indra Patra
  5. Meriam Kesultanan Aceh
  6. Uang emas Kerajaan Aceh
  7. Pinto Khop

Itulah ulasan mengenai Kerajaan Aceh mulai dari sejarah awal keberadaannya, puncak masa kejayaannya, sebab keruntuhannya, hingga peninggalan Kerajaan Aceh.

Semoga informasi ini bisa bermanfaat bagi Anda dan mengingatkan kita semua akan menjaga kelestarian peninggalan yang ada.

 

***
Sumber Foto: Pixabay/saifulmulia